Serat Sesuaikan Kebutuhan

Lalu, sebenarnya berapa jumlah serat per hari yang dibutuhkan oleh anak? Secara umum, untuk anak batita, konsumsi serat cukup 2 porsi atau 200 g per hari, yaitu setara dengan makan 2 mangkuk sayuran ditambah 2 buah per hari. Sedangkan untuk anak usia 4 tahun ke atas, dianjurkan mendapatkan 3 porsi per hari (300 g). Bila kelebihan mengonsumsi makanan berserat, risiko yang muncul adalah produksi gas dalam pencernaan menjadi lebih banyak yang menyebabkan anak jadi sering kentut.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah terhambatnya penyerapan magnesium, kalsium, dan zat besi. Padahal, ketiga unsur gizi ini juga penting dalam menopang tumbuh kembang anak. Terlalu banyak serat juga akan menyebabkan diare. Nah, bila anak kurang mengonsumsi makanan berserat, seperti disebutkan di awal, ia berisiko meng alami masalah kesehatan. Misalnya, kanker rectum (usus), konstipasi (susah buang air besar), obesitas (kegemukan), hemoroid (wasir), serta penyakit degeratif seperti penyakit jantung, stroke, diabetes melitus, dan hipertensi yang terjadi lantaran penumpukan lemak “tidak diber sihkan” oleh serat atau fiber.

Si Kecil Trauma Makan?

Sulit makan pada batita belum tentu karena dia pemilih, namun bisa juga lantaran trauma. Menurut Dr. Rollyn Ornstein dari Penn State Hershey Children’s Hospital, anak-anak yang pernah mengalami tersedak atau muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu dapat mengalami gangguan makan, yang membuatnya menghindari jenis makanan tersebut, bahkan tidak mau makanan padat sama sekali.

Gangguan yang disebut Ornstein sebagai Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) ini, bisa berbahaya apabila tidak segera diantisipasi oleh orangtua. Apalagi, kebanyakan orangtua menganggap gangguan ini hanya seperti picky eating biasa, sehingga berharap akan berlalu seiring dengan pertambahan usia. Anak-anak dengan ARFID bisa kehilangan berat badan dan mengalami malnutrisi dan masalah ini bisa mengganggu aktivitas hariannya, seperti saat makan di luar atau saat bersosialisasi dengan anak-anak lain.

Masalah Perilaku Berawal Dari Kurang Tidur

Si Kecil gampang mengamuk atau memiliki masalah perilaku tertentu? Menurut ahli dari Tel Aviv University, masalah ini bisa jadi berakar pada pola tidur yang kurang baik semasa bayi. Studi yang dimuat di jurnal Developmental Neuropsychology memperlihatkan kaitan antara gangguan perilaku dan pemusatan perhatian dengan pola tidur tidak teratur saat bayi. “Anak yang sulit berkonsentrasi atau punya masalah perilaku pada usia 3?4 tahun cenderung memiliki gangguan tidur saat berusia 1 tahun. Masalah ini bisa diatasi dengan adanya perbaikan pola tidur,” kata Prof. Avi Sadeh, Kepala Riset dari School of Psychological Sciences Tel Aviv University.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *