Baja Lancung Masuk Konstruksi Bag11

”Jadi teknologi di Indonesia tidak tertinggal dan pada akhirnya akan membangun citra industri kita.” Namun, setelah dua tahun bolak-balik membahas, perumusan aturan yang tinggal tahap fnalisasi itu kembali tersendat pada pertengahan 2016. Padahal, menurut Hidajat, saat itu tim yang terdiri atas Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan industri yang diwakili IISIA tinggal membahas kriteria waktu bagi industri yang sudah ada untuk menyesuaikan teknologinya. ”Tapi terhenti karena ganti pejabat.” Angin segar baru datang lagi awal September lalu. Hidajat mengatakan pemerintah mau membuka kembali draf rancangan aturan yang sempat tertunda itu.

Mengapa Harus Berteriak

Si kecil kian pintar saja. Termasuk pintar berteriak. Minta apa saja, disampaikan lewat teriakan. Bahkan sering berteriak tanpa makna yang jelas. “Maaaa sambil kakinya menghentak lantai. Bicaranya pun masih cadel. Sang mama yang berdiri tak jauh …susu!” teriak Dina kecil darinya menja wab, “Iya… kenapa mesti berteriak sih, Dek? Kan, Mama ada di sini.” Mira pun meletakkan ponselnya dan membuatkan susu buat Dina.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Di lain waktu, Mira sedang tak sibuk pun Dina akan berteriak meminta sesuatu. Kenapa, sih, harus berteriak segala? Mama Papa, inilah asyiknya masa batita, masa ketika anak mengeksplorasi semuanya, termasuk suaranya sendiri. Pada periode ini, anak bisa merasakan bahwa dengan berteriak, suara yang dihasilkannya akan berbeda, sehingga ia mencoba dan mencoba lagi aneka jenis teriakan dan mendapat kepuasan mendengar hasilnya.

Ia juga mulai untuk mengenal lingkungan atau orang lain dan mulai bisa menyebutkan hal-hal di sekitarnya. Seru, bukan? Namun, berteriak juga perlu diwaspadai sebagai tindakannya mencontoh orang-orang di sekelilingnya. “Bisa juga anak meniru orang yang ada di sekitarnya yang berteriak ketika membutuhkan sesuatu, jadi anak menggunakan pola yang sama dari lingkungannya,” ujar psikolog Woelan Handadari.

Kemungkinan lain, si batita berteriak disebabkan ia merasa tak mendapat perhatian yang diinginkan. Misal, ketika ia meminta sesuatu, orang dewasa di sekitarnya tetap sibuk dengan kegiatannya, termasuk jika Mama Papa sibuk dengan ponsel saat menemani buah hatinya. Woelan mengatakan, “Anak merasa keinginannya diabaikan maka anak mencoba menguatkan permintaan dengan berteriak karena merasa jengkel atau kesal.”

Berikan Respons Positif

Apa pun alasan batita berteriak, Woelan menekankan agar kita tidak merespons dengan teriakan yang sama bahkan lebih keras daripada anak. “Jika itu yang terjadi, anak akan semakin bereaksi, bahkan tidak hanya berteriak tapi akan muncul perilaku lain, membanting atau melempar mainan, atau bergulung-gulung di lantai, atau mungkin lebih hebat lagi,” urai Woelan. Singkat kata, saat orangtua terkejut mendengar teriakan si kecil, jangan terpancing melakukan hal yang sama. Justru, kita perlu mengajaknya menenangkan diri dan menurunkan suara.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Menafsir Ulang Monumen

Dewa Kwan Kong tegak menjulang di tengah ruang an. Tingginya yang mencapai 3,5 meter terasa meng ancam. Mukanya berkerut, jenggotnya meliuk, tangan kanannya menggenggam golok panjang. Terkesan lebih mengintimidasi karena seluruh tubuh dewa perang Cina itu terbuat dari kolase benda metal berwarna kelabu yang berlubang atau bergeligi.

Adalah blok mesin sepeda motor dan mobil yang dipereteli oleh perupa Ichwan Noor untuk membentuk tubuh sang dewa. ”Sekitar 400 kilogram material saya kumpulkan dari tempat pengumpulan limbah rongsokan di Yogyakarta,” kata Ichwan. Karya Ichwan berjudul Chinese God of War itu khusus dia buat untuk pameran Trienal Seni Patung Indonesia di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Bertema ”Skala”, pameran jilid III ini berlangsung hingga 26 September nanti.

Menyiapkan Sanitasi Dan Air Minum Layakdemi Masa Depan Anak

Berdasarkan data Susenas BPS Tahun 2014, da lam kurun 2004-2014 telah terjadi pening kat an akses sanitasi dan air minum layak masing-masing sebesar 19,30 % dan 22,93 %. Akses sanitasi layak meningkat 2,29 % setiap tahunnya sementara akses air minum meningkat rata rata 1,93 % per tahun. Di akhir tahun 2014, akses sanitasi layak nasional telah mencapai 61,06 % dan akses air minum layak nasional mencapai 68,11 %. Untuk menjaga momentum, pemerintah ber sama de ngan seluruh mitra kerja pembangunan menyelenggarakan Konferensi Air Minum dan Sanitasi Nasional (KSAN) yang kelima, beberapa waktu lalu di Pusat Perfi lman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Menteri Negara Perencanaan Pem bangunan Nasional/Kepala Badan Pe rencanaan Pem bangun an Nasional, Sofyan Djalil me nyatakan, sanitasi dan air minum merupakan salah satu perhatian utama pemerintah. “Penyelenggaraan layanan air bersih dan sanitasi yang layak merupakan prasyarat dasar pemba ngunan. Sebuah investasi yang harus diamankan terlebih dahulu untuk menjamin pembangunan sektor lainnya dapat berjalan. Untuk itu pembangunan air minum dan sanitasi harus dipandang sebagai inves tasi jangka panjang yang harus dimulai sejak awal,” ujar Sofyan Djalil dalam acara konperensi pers.

Untuk menjamin keberhasilan pencapaian target universal access tahun 2019, pemerintah, dan pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan menganggarkan pembiayaan pem bangunan air minum dan sanitasi tiga kali lipat dari total anggaran 2010-2014. “Diperkirakan untuk kebutuhan pembiayaan air minum akan mencapai Rp275 triliun, sedangkan untuk sanitasi mencapai Rp273,7 triliun. Berdasarkan pembelajaran lima tahun ke belakang (2010-2014), kontribusi masyarakat mencapai 20%. Ini bukti masyarakat memberikan prioritas yang sangat tinggi terhadap pembangunan air minum dan sanitasi,” tambah Sofyan.

Terkait kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah, Deputi Pengembangan Regional, Kementerian PPN/Bappenas, Arifi n Rudiyanto, menyatakan, “Kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu terus didukung dengan koordinasi yang solid di masing-masing tingkatan pemerintahan. Keberadaan Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) baik ditingkat nasional, provinsi mau pun kabupaten/kota di seluruh Indonesia sebagai wadah koor dinasi lintas sektor merupakan dasar dan modal yang kuat untuk mewujudkan pencapaian target universal access.”

Sumber : https://eduvita.org/

 

Upaya Tersisa Papa Setya Bag7

Anggota Dewan Pembina Golkar, Fahmi Idris, sempat bertanya kepada Setya apakah bakal mengajukan praperadilan. Jawaban bekas Bendahara Umum Golkar tersebut persis seperti yang disampaikan kepada Habibie. ”Pak Setya mengatakan akan menghadapinya langsung ke pengadilan,” ujar Fahmi. Rupanya, alasan-alasan itu diungkapkan karena Setya belum begitu yakin praperadilan akan menguntungkannya.

Ia menugasi Bidang Hukum DPP Partai Golkar mengkaji statusnya sebagai tersangka. Termasuk, kata Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham, menyiapkan langkah-langkah hukum. Idrus memberi waktu kepada DPP untuk menyiapkan bahan kajian. Bahkan, ketika dimintai konfrmasi pekan lalu, Idrus beralasan gugatan praperadilan baru diajukan karena hasil kajian tim hukum Golkar baru rampung. Ketua Bidang Hukum Golkar Rudy Alfonso justru berbicara sebaliknya. Dia tak pernah dilibatkan dalam kajian hukum, termasuk persiapan mengajukan praperadilan.

Serat Sesuaikan Kebutuhan

Lalu, sebenarnya berapa jumlah serat per hari yang dibutuhkan oleh anak? Secara umum, untuk anak batita, konsumsi serat cukup 2 porsi atau 200 g per hari, yaitu setara dengan makan 2 mangkuk sayuran ditambah 2 buah per hari. Sedangkan untuk anak usia 4 tahun ke atas, dianjurkan mendapatkan 3 porsi per hari (300 g). Bila kelebihan mengonsumsi makanan berserat, risiko yang muncul adalah produksi gas dalam pencernaan menjadi lebih banyak yang menyebabkan anak jadi sering kentut.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah terhambatnya penyerapan magnesium, kalsium, dan zat besi. Padahal, ketiga unsur gizi ini juga penting dalam menopang tumbuh kembang anak. Terlalu banyak serat juga akan menyebabkan diare. Nah, bila anak kurang mengonsumsi makanan berserat, seperti disebutkan di awal, ia berisiko meng alami masalah kesehatan. Misalnya, kanker rectum (usus), konstipasi (susah buang air besar), obesitas (kegemukan), hemoroid (wasir), serta penyakit degeratif seperti penyakit jantung, stroke, diabetes melitus, dan hipertensi yang terjadi lantaran penumpukan lemak “tidak diber sihkan” oleh serat atau fiber.

Si Kecil Trauma Makan?

Sulit makan pada batita belum tentu karena dia pemilih, namun bisa juga lantaran trauma. Menurut Dr. Rollyn Ornstein dari Penn State Hershey Children’s Hospital, anak-anak yang pernah mengalami tersedak atau muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu dapat mengalami gangguan makan, yang membuatnya menghindari jenis makanan tersebut, bahkan tidak mau makanan padat sama sekali.

Gangguan yang disebut Ornstein sebagai Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) ini, bisa berbahaya apabila tidak segera diantisipasi oleh orangtua. Apalagi, kebanyakan orangtua menganggap gangguan ini hanya seperti picky eating biasa, sehingga berharap akan berlalu seiring dengan pertambahan usia. Anak-anak dengan ARFID bisa kehilangan berat badan dan mengalami malnutrisi dan masalah ini bisa mengganggu aktivitas hariannya, seperti saat makan di luar atau saat bersosialisasi dengan anak-anak lain.

Masalah Perilaku Berawal Dari Kurang Tidur

Si Kecil gampang mengamuk atau memiliki masalah perilaku tertentu? Menurut ahli dari Tel Aviv University, masalah ini bisa jadi berakar pada pola tidur yang kurang baik semasa bayi. Studi yang dimuat di jurnal Developmental Neuropsychology memperlihatkan kaitan antara gangguan perilaku dan pemusatan perhatian dengan pola tidur tidak teratur saat bayi. “Anak yang sulit berkonsentrasi atau punya masalah perilaku pada usia 3?4 tahun cenderung memiliki gangguan tidur saat berusia 1 tahun. Masalah ini bisa diatasi dengan adanya perbaikan pola tidur,” kata Prof. Avi Sadeh, Kepala Riset dari School of Psychological Sciences Tel Aviv University.

Sumber : https://ausbildung.co.id/