Bebas Obat Epilepsi Anakku

Karena selalu menjalani tip, baik dari dokter maupun komunitas, anakku yang mengalami epilepsi sekarang sudah terbebas dari obat. Kejadian pukul 10 pagi, 20 Agustus 2010, tidak akan pernah bisa hilang dari ingatan saya. Anak lelaki saya, Raisa (7,8), tibatiba berteriak dan kejang tanpa disertai panas tinggi. Kejadiannya kurang lebih tiga menit. Karena tidak tahu apa yang terjadi, dengan dibantu tetangga, kami segera membawa Raisa ke bidan terdekat setelah kejangnya reda.

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

Bu Bidan tidak bisa berbuat banyak, lalu merujuk Raisa ke rumah sakit. Di rumah sakit, saat diperiksa dokter anak, Raisa sedang tertidur lelap. Setelah membaca surat dari bidan dan menyimak kronologis ceritanya dari saya, dokter menusuk jempol kaki Raisa dengan jarum. Hasilnya, Raisa tetap tertidur dan tidak merasakan sakit sedikit pun. Saat itu dokter langsung mengatakan, kemungkinan Raisa mengidap epilepsi. Saya sedih bukan kepalang.

Saya tidak tahu kejang-kejang yang dialami Raisa dan teriakteriakannya waktu itu adalah kejadian epilepsi. Setahu saya, epilepsi itu kejang-kejang ayan dengan mulut berbusa. Makanya, saya tidak menelan bulat-bulat hasil diagnosis dokter saat itu. Saya minta dokter melakukan observasi lebih lanjut supaya bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada Raisa.

Untungnya, dokter terse but sabar, cerdas, dan bisa menjelaskan dengan saksama kepada saya dan suami yang awam mengenai epilepsi. Menurutnya, seorang yang terkena serangan atau kejang epilepsi, beberapa saat setelahnya akan mengalami bingung, loss memory, dan tidur lelap.

Hasil Eeg Positif

Dokter meminta Raisa menjalani rawat inap di rumah sakit supaya bisa dilakukan observasi lebih lanjut dengan CT scan (computed tomography scan) dan lainnya. Kami pun menyetujui. Selama tiga hari perawatan, Raisa tidak mengalami kejang. Begitu pun hasil CT scan menunjukkan normal. Tapi hasil EEG (Elektroensefalografi) memper lihatkan adanya gelombang lis trik saraf otak abnormal.

Dari hasil itu, Raisa dirujuk ke dokter anak dan dokter saraf. Kedua dokter itu menguasai epilepsi. Tapi, sejujurnya, saat itu pun saya masih belum yakin apa yang terjadi pada Raisa. Saat Raisa mengalami kejang berulang di bulan September, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, Raisa menjalani hingga dua kali EEG. Hasil keduanya menunjukkan, Raisa memang mengalami epilepsi. Saat itu barulah saya bisa yakin dan menerima kondisi Raisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *