Algoritma Mobokratis

DI era keberlimpahruahan informasi yang kita alami sekarang ini, media sosial (Facebook dan Twitter, misalnya) berjuang agar informasi yang melewati platform mereka mendapatkan attention (perhatian) sebanyak mungkin dari warganet (netizen). Attention menjadi barang langka yang diperebutkan dan ”dijual” agar bisnis mereka tumbuh terus. Algoritma mereka dirancang untuk mendorong agar sebanyak mungkin pasang mata melihat sejumlah posting-an, mengRT, men-share, me-like, dan memberikan komentar.

Wael Ghonim (2016)—aktivis media sosial Mesir yang laman Facebooknya memobilisasi rakyat Mesir untuk turun ke Medan Tahrir (Tahrir Square) dan berujung pada tumbangnya Presiden Mubarak—menyebutnya sebagai algoritma mobokratis (mobocratic algorithms). Inilah algoritma yang memberi kekuasaan pada mob atau ”kerumunan”. Dengan algoritma mobokratis ini, posting-an yang nyaring, marah, agresif, sensasional, atau bias akan mendapatkan attention lebih banyak, dan karenanya menyebar lebih cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *