Mengintip Sejarah di Museum Nasional

Perjalanan kami dimulai dari Halte Sarinah Thamrin, memutari Bundaran Hotel Indonesia, melaju menuju Jalan Merdeka Barat, dan berhenti di halte Museum Nasional. Inilah tujuan pertama kami: Museum Nasional. Mungkin sebagian dari Anda malas berkunjung ke sini karena penataan museum yang tidak menarik. Tapi, itu dulu. Sekarang ini, Museum Nasional telah mengalami peremajaan pada bangunan maupun pada interiornya. Bangunan museum terdiri dari sayap kiri dan sayap kanan.

Baca juga : Jual Genset Makassar

Bangunan sayap kiri bernapaskan arsitektur Yunani, lengkap dengan 4 tiang penyangga ala Doric. Bangunan ini memang bangunan lama, yang dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1862 untuk menampung koleksi milik perkumpulan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), sebuah perkumpulan pencinta ilmu pengetahuan dan budaya. Di gedung lama ini terdapat koleksi arca-arca dari zaman prasejarah, keramik peninggalan masa lampau, miniatur rumah adat, dan berbagai barang koleksi sejarah lainnya.

Bagi penikmat sejarah, tempat ini bagaikan surga. Bagian yang lebih menarik—dan modern—adalah bangunan di sayap kanan. Bangunan ini sebenarnya juga bangunan lama, namun telah direnovasi interior dan eksteriornya. Di sini, Anda dapat menikmati teknologi-teknologi masa dulu dengan kemasan yang modern. Interiornya pun dibuat layaknya museum museum di luar negeri, dengan warna-warna yang ceria. Bagian luar museum ini juga sangat menarik, dan pantas dijadikan objek ber-narsis ria. Paduan arsitektur Yunani yang klasik dengan jembatan kaca yang modern, ditambah lagi instalasi seni berbentuk lingkaran yang bertengger di depan museum, membuat tempat ini pantas dijadikan objek wisata pertama kami di hari ini.

Mencicipi Es Krim Tersohor

Tujuan kami selanjutya adalah Es Krim Ragusa, yang berada tepat di samping Masjid Istiqlal. Untuk menuju ke sini, kami turun di Halte Istiqlal, lalu berjalan kaki sekitar 5 menit. Es Krim Ragusa adalah es krim buatan rumah yang konon sudah berdiri sejak tahun 1932. Untuk memertahankan keotentikannya, sang pemilik tidak mengubah kedainya sama sekali. Alhasil, di kedai kecil itu, Anda dapat bernostalgia sambil merasakan atmosfer masa lalu. Di depan kedai, terdapat penjual gado-gado dan sate, dua santapan yang menjadi menu tambahan makan siang kami kali ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *